pelatihan ecoprint oleh batik siputri dan paropakaran di desa Lerep

Warga Lerep Belajar Ecoprint dari Batik siPutri dan Paropakara

Kamis pagi (27/6/2024), udara Desa Lerep di Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, terasa sejuk. Suara ayam berkokok dan gemericik air irigasi jadi latar alami untuk kegiatan yang tidak biasa. Balai pertemuan desa, yang biasanya dipakai rapat warga, hari itu dipenuhi kain putih, tumpukan daun, dan suara tawa ibu-ibu.

Batik siPutri bersama Paropakara datang untuk mengenalkan teknik ecoprint kepada warga Kampung Iklim Sokaku Asri. Ecoprint adalah teknik menghias kain dengan memanfaatkan daun, bunga, dan bagian tanaman lain sebagai motif alami. Kali ini, teknik ecoprint yang digunakan adalah pounding, yaitu memindahkan motif daun ke kain dengan memukulnya menggunakan palu kayu.

Acara dimulai dengan memberi edukasi kepada warga seputar ecoprint, seperti mengenalkan tentang ecoprint, peluang ekonominya, dan bagaimana bahan-bahan alami bisa menghasilkan karya bernilai jual.

Setelah sesi teori, meja panjang yang sudah dipenuhi daun cepokak, daun pepaya, serta dedaunan dan bunga dari pekarangan warga mulai jadi pusat perhatian. Ibu-ibu peserta memilih sendiri bahan yang mereka sukai, lalu menatanya di atas kain putih. Begitu siap, kain dilapisi plastik pelindung dan mulai dipukul. Suara tok-tok-tok memenuhi ruangan. Pigmen alami dari daun dan bunga berpindah ke serat kain, menciptakan motif unik. Daun pepaya memberi hijau lembut, daun cepokak menghasilkan hijau tua, sementara bunga meninggalkan noda kuning atau ungu. “Ternyata warnanya beda-beda, padahal daunnya sama-sama hijau,” ujar Bu Siti sambil tersenyum melihat kainnya yang sudah dihiasi motif ecoprint.

Meski warga baru pertama kali mencoba, suasananya santai dan penuh canda. Setiap daun yang dibuka memunculkan reaksi kagum, seperti membuka hadiah kejutan. Bagi ibu-ibu desa, ini bukan sekadar belajar keterampilan baru. Ecoprint bisa jadi peluang usaha rumahan dengan modal minim, memanfaatkan bahan alam di sekitar. Dari teknik sederhana ini, mereka bisa membuat scarf, tas kain, hingga taplak meja.

Kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan Kampung Iklim Sokaku Asri, yang mendorong warga menjaga lingkungan sambil meningkatkan kualitas hidup. Dengan memanfaatkan daun dan bunga yang biasanya terbuang, warga mengurangi limbah organik sekaligus menambah nilai ekonominya. “Kalau dilatih terus, hasilnya bisa lebih bagus dan bisa dijual. Lumayan buat tambahan penghasilan,” kata Bu Yuni yang sudah berencana mencoba di rumah.

Batik siPutri dan Paropakara berharap pelatihan ini jadi awal dari perjalanan panjang warga Lerep dalam mengembangkan ecoprint. Menjelang siang, kain-kain hasil pounding dijemur di halaman balai desa, berderet seperti galeri seni spontan. Hari itu, warga Lerep tak hanya belajar membuat motif kain, tapi juga melihat potensi besar yang ada tepat di sekitar mereka.

Share the Post:

Artikel Terkait

Tetap Terhubung dengan Kami

Dapatkan update koleksi terbaru, tips perawatan batik alami, dan cerita inspiratif dari balik layar produksi kami.
Translate »